Adbox

Kamis, 27 Juli 2017

Temanggung Negeri Tembakau




Tanaman asal Amerika Latin ini menjadi sumber hidup bagi petani di Kabupaten Temanggung. Mayoritas dengan tembakau mereka menjadikan pegangan hidup. Memang tidak bisa di pungkiri, jika tembakau Temanggung memiliki kualitas yang terbaik di Indonesia, bahkan dunia mengakuinya. Tembakau temanggung ibarat, lauk pauk dalam sebuah hidangan, sedangkan nasinya adalah tembakau diluar Temanggung.  Dengan asumsi, bahwa yang namanya lauk jelas dengan porsi yang lebih sedikit.

Didaerah pegunungan ini, seluas mata memandang hanyalah tanaman Tembakau. Rumah bertingkat dengan halaman luas yang penuh dengan para-para penjemur Rigen menjadi ciri khasnya. Aroma pedesaan yang semerbak bau tembakau menambah ciri kuat sebagai daerah penghasil utama tembakau. Bulan Agustus - September adalah puncak panen tembakau, dan saatnya orang Temanggung sedang menuai emas hijau yang terhampar luas di ladang.
Berada di dataran tinggi dengan letak geografis yang membentang dari lereng Gunung Sumbing sampai Gunung Sindoro, menjadikan Temanggung sebagai ‘surga’ tembakau. Tembakau Srintil, merupakan primadona utama dari Temanggung. Beberapa penikmat rokok kretek menyebut, rokok tanpa tembakau dari Temanggung ini tidak akan menjadi rokok yang mantap dan berkualitas.
Memangnya berapa rupiah dari menanam Tembakau, jika anda sekilas melihat seolah tidak percaya apa yang sebenarnya terjadi. Puluhan hingga ratusan juta masuk dikantong disaat panen berhasil, jika gagal maka hanya untuk menambal celah-celah lobang dari modal awal. Rumah yang sederhana, namun kokoh berdiri dengan 3 mobil bak terbuka berjajar, deretan sepeda motor bukanlah para tamu yang parkir, tetapi properti pribadi petani.



Coba masuk disalah satu rumah penduduk petani tembakau. Didalam rumah sudah berjajar keranjang-keranjang Tembakau siap kirim. Lantas terdengar suara, ''hanya laku 300 juta saja''. Suara dengan nada rendah dan sedikit serak seolah halilintar menyambar gendang telinga. Dari raut polos seorang ibu istri petani, hanya bilang kalaua tembakaunya cuma ditawar 300 juta dari 500 juta yang diajukan. Namun apa boleh buat, dengan 300 juta sudah bisa menutup modal awal sekiatar 100an juta lebih.

Sebuah pertanyaan muncul, uang sebanyak itu untuk beli apa?. Kembali dengan jawan bernada serak, yang penting bisa buat beli beras dan pupuk untuk musim tanam selanjutnya. Sebuah permintaan yang sederhana, beli beras dan pupuk, tanpa berpikir beli televisi layar datar 60'', atau barang mewah selanjutnya. Jangankan barang mewah, biaya untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri pun lebih dari cukup.

Pola sederhana dan bijaksana dalam menyikapi setiap untaian rejeki yang setiap setahun sekali di panen. Disela-sela pembicaraan, bahkan ada yang bisa mengais uang mendekati satu miliar dari hasil tembakaunya. Sebuah harga yang fantastis untuk tanaman berumur 3 bulan atau 100 hari tersebut. Tidak heran banyak yang tergantung sepenuhnya pada Tembakau, walau terpaksa menyingkirkan tanaman lain. Tembakau memang tidak bisa dipisahkan dari masarakat Temanggung.

Menjadi pertanyaan sekarang, mengapa petani-petani disana yang konon katanya memegang uang puluhan hingga ratusan juta rupiah seolah hidupnya tidak berubah. Bahakan desa yang menghasilkan uang miliaran rupiah dari emas hijau, masih seperti desa tertinggal dan dengan uang sebanyak itu bisa saja membangun perumahan sistem cluster atau apartemen mewah. Kembali pada budaya lokal, memang begitulah kehidupan mereka yang menganggap kekayaan bukan segala-galanya.

Bukan masalah mereka tidak menabung, investasi atau berbelanja, namun ada kebutuhan lain yang mereka anggap lebih penting dari sekedar hura-hura. Mereka tidak segan mengucurkan puluhan juta demi menanggap wayang atau tontonan sejenis. Mereka tak pelit untuk keluar biaya pesta rakyat, dari slametan hingga nyadran. Namun disitulah letak kearifan mereka dalam memanfaatkan kelimpahan sumber daya alam. Andaikata mereka semua berubah menjadi manusia yang hedonisme, apakah masih ada yang mau keladang memikul pupuk, mencangkul dan merawat Tembakau, enakan di rumah dan berfoya-foya.


Panen bagi mereka bukan puncak dan akhir dari sebuah pesta, namun awal dari pesta itu sebenarnya. Hasil panen harus bisa di bagi mana untuk modal tanam, biaya perawatan, biaya hidup dan kebutuhan lain, hingga semua rata terpenuhi. Seolah tidak ada celah yang luput dari semprotan hasil panen dan semua rata. Pola pikir yang sangat sederhana, tahun depan dan selanjutnya masih bisa panen. Hidup yang penuh pengharapan dibalik kesederhanaan untuk menanam emas hijau dan menuai ratusan juta rupiah. Mungkin sepintas diwajah polos dan rumah sederhana mereka masuk kategori keluarga miskin, namun jangan salah disaat pundi-pundi rupiah yang tersimpan diladang siap didulang. Jangankan membeli motor, dealer pun bersiap-siap kehabisan stock, atau beli beras sambil naik mobil mewah. Memang itulah mereka dengan segala kearifan, kebijaksanaan dalam menyikapi sumberdaya alam dengan penuh kesederhanaan.





Generasi Tembakau

Dibeberapa tempat, dari kebanyakan mereka, tidak semua merupakan petani tembakau. Banyak PNS, Guru, Pengusaha, Kelontong, beranekaragam seperti kota lainnya pada umumnya. Banyak juga yang tidak memiliki lahan untuk tanaman tembakau, berwiraswasta walaupun masih dikategorikan dalam bidang tembakau, misalkan pedagang yang membeli tembakau dari para petani, mengumpulkannya lalu menjualnya kepabrik rokok semacam Gudang Garam, Jarum dll. Kegiatan jual beli ini dahulu dipelopori oleh para Pendatang keturunan TiongHoa, tidak heran kalau kebanyakan dalam sebutan mereka “ Pengepul Tembakau ini ” adalah keturunan China. Namun seiring perkembangan zaman, orang-orang penduduk setempatpun ( wong Temanggung asli ) mulai belajar dan tak mau kalah dengan mereka.
Dari generasi petani tembakau, ada beberapa yang tidak mementingkan sekolah, tapi jangan salah sekarang banyak anak-anak mereka berpendidikan hingga Diploma,Sarjana 2, Dokter, IT, ada juga yang hingga Sekolah Tinggi. Dan generasi ini bukanlah lagi Petani Tembakau. Saya hanyalah penulis yang ikut andil bagian dalam kelompok ini.

Maaf artikel ini tidak membahas tentang Rokok.

Posting Komentar
Adbox